ANGELINE
Hampir sebulan sudah kabar
menghilangnya Angeline menghebohkan. Mulai dari kepolisian, Komnas Perlindungan
Anak,Pihak Asing, para Mentri bahkan Presidenpun bersimpati. Hilangnya Angeline
seperti menggugah kembali rasa kebersamaan Bangsa tercinta ini. Semua di buat
pusing,semua di buat mencari dan terus mencari, Angeline si anak gadis berusia
9 Tahun itu. Salut dan sangat layak
diacungi jempol.
Namun sangat amat di sayangkan,
kepedulian terhadap hilangnya Angeline tidak sama seperti kepedulian terhadap
persepak bolaan di negeri tercinta ini. Padahal bila dibandingkan,Angeline
hanya seorang anak,sedangkan masalah sepak bola bisa saja menyangkut masa depan ratusan bahkan
ribuan anak di Negara ini. Bayangkan saja mau makan apa anak – anak yang orangtuanya
menggantungkan hidupnya dari bermain bola atau pekerjaan orangtuanya berkaitan
dengan permainan bola seperti wasit,pelatih dll ??
Tragis memang nasib yang menimpa
para pelaku sepakbola nasional. Janji pemerintah yang akan bertanggung jawab
bila PSSI di bekukan FIFA hanyalah pemanis dari pil pahat yang dipaksa untuk di
telan. Hilangnya Angelina penting tapi matinya sepakbola nasional lebih penting
lagi karena sudah menyangkut hajat hidup orang banyak.
Mau dibawa kemana Negara ini bila
pemerintahnya sendiri melanggar undang –
undang ?? Apa jadinya bila ratapan dan tangisan orang kecil tidak dipedulikan
?? Apakah pemerintah sekarang tahu sejarah sepakbola di negeri ini bahwasanya
PSSI lebih dahulu ada sebelum Negara ini Memproklamasikan Kemerdekaan ??Seharusnya
semua sadar bahwa sepakbola lah yang lebih dahulu menyatukan Negeri ini jadi
jangan pernah menghancurkannya. Sadarlah bahwa Saudara dipilih oleh Rakyat yang
mungkin sebagian besar dari para pesepakbola dan pecinta sepakbola. Mereka
memilih Saudara untuk menyatukan, bukan malah menghancurkan mimpi dan harapan
mereka. Bayangkanlah bila ini menimpa
Saudara. Bayangkan bila pekerjaan yang Saudara lakukan untuk keluarga di
berhentikan dengan paksa. Apakah Saudara
tetap tidak peduli dengan hal ini.
Dengan menghidupkan kembali
sepakbola sama artinya dengan mempersatukan kembali Bangsa dan Negara ini karena klub yang bermain adalah perwakilan
Masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Jangan hanya ramai - ramai mencari
Seorang anak dan tidak peduli dengan nasib ratusan anak yang lain karena bisa
saja kami yang bodoh ini punya pemikiran buruk bahwa seakan akan Saudara
mendiskriminasikan sebagian anak – anak yang hidup di Negara ini.
Bola kaki bukan sekedar hobby
atau lahan tuk menggantungkan hidup tapi bola kaki adalah pemersatu, dimana di
dalamnya terdapat kebersamaan, seni,
perjuangan, dan masih banyak lagi. Bila di simak baik – baik, di dalam
permainan bola kaki terdapat banyak pembelajaran yang sangat berharga yang bisa
di terapkan dalam kehidupan sehari – hari. Salah satunya mengajarkan tentang
hidup yang tidak mementingkan ego karena kan sangat berbahaya dan merugikan
diri pribadi atau kelompok. Mereka bersatupadu bekerja sama berusaha dengan
keindahan taktik dan strategi untuk satu tujuan memenangkan permainan tanpa
peduli seberapa lelah mereka berlari walau harus terjatuh, walau harus meringis
menahan sakitnya cedera yang menimpa mereka pun tak peduli. Dan bila kemenangan
sudah diraih,mereka smua bangga dan bahagia. Bukan karena Striker menciptakan
Gol,bukan karena pemain tengah yang berhasil menguasai lapangan tengah,bukan
karena pemain blakang yang mampu menjaga pertahanan,bukan karena kipper yang
sangat jago menjaga gawang, bukan karena pelatih yang berhasil tapi karena
kepuasan dan kebanggan untuk tim, keluarga, dan penonton.
Seharusnya Pemerintah belajar
tentang bagaimana cara mempersatukan dan bukannya merusak merusak mimpi – mimpi
mereka yang telah berjuang untuk bangsa ini. Punya 2 mata tapi mungkin hanya
satu saja yang dipakai melihat keburukan. Punya 2 telinga tapi hanya satu saja
yang dipakai mendengar teriakan kebohongan.
Mungkin itulah sifat asli
Manusia. Satu saja keburukan bisa menghapus seribu keberhasilan tanpa berfikir
bahwa Merekapun pernah berbuat kesalahan. Langsung memvonis buruk tanpa
berfikir apa akibatnya nanti. Mempunyai kekuasaan tapi di gunakan untuk
menindas. Seandainya Mereka adalah Tuhan,bisa di bayangkan mungkin tak ada
kehidupan di alam ini. Sungguh sangat
tragis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar