Senin, 08 Juni 2015

Angeline



ANGELINE
Hampir sebulan sudah kabar menghilangnya Angeline menghebohkan. Mulai dari kepolisian, Komnas Perlindungan Anak,Pihak Asing, para Mentri bahkan Presidenpun bersimpati. Hilangnya Angeline seperti menggugah kembali rasa kebersamaan Bangsa tercinta ini. Semua di buat pusing,semua di buat mencari dan terus mencari, Angeline si anak gadis berusia 9 Tahun itu. Salut dan sangat  layak diacungi jempol.
Namun sangat amat di sayangkan, kepedulian terhadap hilangnya Angeline tidak sama seperti kepedulian terhadap persepak bolaan di negeri tercinta ini. Padahal bila dibandingkan,Angeline hanya seorang anak,sedangkan masalah sepak bola bisa  saja menyangkut masa depan ratusan bahkan ribuan anak di Negara ini. Bayangkan saja mau makan apa anak – anak yang orangtuanya menggantungkan hidupnya dari bermain bola atau pekerjaan orangtuanya berkaitan dengan permainan bola seperti wasit,pelatih dll ??
Tragis memang nasib yang menimpa para pelaku sepakbola nasional. Janji pemerintah yang akan bertanggung jawab bila PSSI di bekukan FIFA hanyalah pemanis dari pil pahat yang dipaksa untuk di telan. Hilangnya Angelina penting tapi matinya sepakbola nasional lebih penting lagi karena sudah menyangkut hajat hidup orang banyak.
Mau dibawa kemana Negara ini bila pemerintahnya sendiri  melanggar undang – undang ?? Apa jadinya bila ratapan dan tangisan orang kecil tidak dipedulikan ?? Apakah pemerintah sekarang tahu sejarah sepakbola di negeri ini bahwasanya PSSI lebih dahulu ada sebelum Negara ini Memproklamasikan Kemerdekaan ??Seharusnya semua sadar bahwa sepakbola lah yang lebih dahulu menyatukan Negeri ini jadi jangan pernah menghancurkannya. Sadarlah bahwa Saudara dipilih oleh Rakyat yang mungkin sebagian besar dari para pesepakbola dan pecinta sepakbola. Mereka memilih Saudara untuk menyatukan, bukan malah menghancurkan mimpi dan harapan mereka.  Bayangkanlah bila ini menimpa Saudara. Bayangkan bila pekerjaan yang Saudara lakukan untuk keluarga di berhentikan dengan paksa.  Apakah Saudara tetap tidak peduli  dengan hal ini.
Dengan menghidupkan kembali sepakbola sama artinya dengan mempersatukan kembali Bangsa dan Negara ini  karena klub yang bermain adalah perwakilan Masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Jangan hanya ramai - ramai mencari Seorang anak dan tidak peduli dengan nasib ratusan anak yang lain karena bisa saja kami yang bodoh ini punya pemikiran buruk bahwa seakan akan Saudara mendiskriminasikan sebagian anak – anak yang hidup di Negara ini.  
Bola kaki bukan sekedar hobby atau lahan tuk menggantungkan hidup tapi bola kaki adalah pemersatu, dimana di dalamnya terdapat kebersamaan, seni,  perjuangan, dan masih banyak lagi. Bila di simak baik – baik, di dalam permainan bola kaki terdapat banyak pembelajaran yang sangat berharga yang bisa di terapkan dalam kehidupan sehari – hari. Salah satunya mengajarkan tentang hidup yang tidak mementingkan ego karena kan sangat berbahaya dan merugikan diri pribadi atau kelompok. Mereka bersatupadu bekerja sama berusaha dengan keindahan taktik dan strategi untuk satu tujuan memenangkan permainan tanpa peduli seberapa lelah mereka berlari walau harus terjatuh, walau harus meringis menahan sakitnya cedera yang menimpa mereka pun tak peduli. Dan bila kemenangan sudah diraih,mereka smua bangga dan bahagia. Bukan karena Striker menciptakan Gol,bukan karena pemain tengah yang berhasil menguasai lapangan tengah,bukan karena pemain blakang yang mampu menjaga pertahanan,bukan karena kipper yang sangat jago menjaga gawang, bukan karena pelatih yang berhasil tapi karena kepuasan dan kebanggan untuk tim, keluarga, dan penonton.
Seharusnya Pemerintah belajar tentang bagaimana cara mempersatukan dan bukannya merusak merusak mimpi – mimpi mereka yang telah berjuang untuk bangsa ini. Punya 2 mata tapi mungkin hanya satu saja yang dipakai melihat keburukan. Punya 2 telinga tapi hanya satu saja yang dipakai mendengar teriakan kebohongan.
Mungkin itulah sifat asli Manusia. Satu saja keburukan bisa menghapus seribu keberhasilan tanpa berfikir bahwa Merekapun pernah berbuat kesalahan. Langsung memvonis buruk tanpa berfikir apa akibatnya nanti. Mempunyai kekuasaan tapi di gunakan untuk menindas. Seandainya Mereka adalah Tuhan,bisa di bayangkan mungkin tak ada kehidupan  di alam ini. Sungguh sangat tragis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar